FESTIVAL RAKSHA LOKA 2026: Merayakan Kearifan Lokal dan Merajut Peta Jalan Ketahanan Iklim dari Akar Rumput hingga Tingkat Nasional
Jakarta, 23 Mei 2026 –
Seiring dengan semakin nyata dampak krisis iklim, solusi praktis dan berkelanjutan seringkali berakar dari pengetahuan lokal dan adat. Berangkat dari prinsip tersebut, Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, bekerja sama dengan United Nations Development Programme (UNDP) dan Pemerintah Indonesia, menyelenggarakan Festival Raksha Loka 2026 pada 22–23 Mei 2026 di M Bloc Space, Jakarta Selatan.
Diselenggarakan bertepatan dengan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, festival ini memadukan perayaan budaya dan dialog kebijakan, menjembatani inovasi dengan pemangku kepentingan nasional termasuk pembuat kebijakan, akademisi, filantropi, sektor swasta, media, dan komunitas perkotaan. Raksha Loka menegaskan bahwa solusi terhadap isu iklim dan lingkungan tidak selalu membutuhkan intervensi skala besar—melainkan dapat tumbuh dari kearifan lokal, aksi kolektif, serta praktik pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat yang telah teruji dalam konservasi laut, rehabilitasi lahan, tata kelola air, ekonomi hijau, dan keadilan gender.
Selain itu, Festival Raksha Loka juga menandai penutupan fase operasional ketujuh GEF SGP Indonesia yang telah dilaksanakan sejak tahun 2022. Pada Fase Operasional 7 (2022–2026), SGP mendorong pendekatan berbasis bentang alam, kolaborasi lintas pemangku kepentingan, serta penerapan ekonomi hijau dan prinsip kesetaraan gender dan inklusi sosial (GEDSI) guna memperkuat dampak dan mendorong replikasi praktik baik ke tingkat nasional. Dalam fase ini, pendekatan berbasis bentang alam memperkuat kolaborasi antara komunitas dan organisasi masyarakat sipil di wilayah-wilayah rentan lingkungan, termasuk Daerah Aliran Sungai Bodri (Jawa Tengah), DAS Balantieng (Sulawesi Selatan), kawasan penyangga Suaka Margasatwa Nantu dan Taman Hutan Raya B.J. Habibie (Gorontalo), serta Pulau Sabu Raijua (Nusa Tenggara Timur). Di berbagai bentang alam ini, inisiatif masyarakat mendorong upaya restorasi ekosistem mulai dari konservasi hutan dan air, rehabilitasi mangrove, pertanian berkelanjutan, energi terbarukan, hingga pengembangan usaha berbasis komunitas.
Raksha Loka menjadi platform untuk memperkuat suara lokal dan mengangkat solusi berbasis komunitas ke dalam diskursus nasional. Sidi Rana Menggala, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, menekankan bahwa festival ini tidak hanya sebagai acara publik tetapi juga sebagai bentuk “diplomasi” bagi masyarakat adat dan komunitas lokal. “Selama bertahun-tahun, mereka berada di garis depan perlindungan lingkungan, namun suaranya seringkali tidak terdengar. Melalui festival ini, kami ingin menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan referensi utama dan solusi yang paling teruji dalam menghadapi krisis iklim saat ini,” jelasnya.
Penekanan pada inklusi juga mencerminkan kesadaran akan ketimpangan dampak krisis iklim. Sujala Pant, Deputy Resident Representative UNDP Indonesia, menyoroti pentingnya pendekatan inklusif dalam solusi lingkungan.
“Krisis iklim tidak berdampak sama bagi semua orang; perempuan dan kelompok rentan sering menanggung bebannya! paling berat. Namun, mereka juga merupakan agen perubahan yang tangguh. Dukungan UNDP melalui GEF SGP Indonesia memastikan bahwa transisi Indonesia menuju ekonomi hijau dan ketahanan iklim berakar pada kesetaraan gender dan inklusi sosial (GEDSI). Praktik terbaik dari tingkat akar rumput ini perlu direplikasi dan diperluas,” ujarnya.
Senada dengan itu, Erik Teguh Primiantoro, GEF Operational Focal Point Indonesia, menyampaikan bahwa aksi di tingkat akar rumput berkontribusi langsung pada target global. “Bertepatan dengan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, Festival Raksha Loka menunjukkan bagaimana inisiatif masyarakat selaras dengan agenda strategis nasional. Aksi nyata komunitas—mulai dari konservasi hutan adat hingga pertanian berkelanjutan—menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk mencapai komitmen global dalam konservasi keanekaragaman hayati dan penurunan emisi,” tambahnya.
Menghubungkan Ekosistem Pendanaan dan Partisipasi Publik
Festival Raksha Loka 2026 juga menandai peluncuran inisiatif pembiayaan inovatif—TM Fund 2.0 dan BUMI (Bantuan Usaha Melalui Investasi)—yang dirancang untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang usaha berbasis komunitas setelah fase hibah berakhir. Dengan menjembatani inovasi akar rumput dan akses pendanaan, inisiatif ini bertujuan mendorong skala ekonomi hijau lokal menjadi usaha mandiri yang tangguh serta memberikan nilai ekologis dan ekonomi.
Acara ini juga ditutup dengan pembacaan Manifesto Alam, pemberian penghargaan kepada mitra komunitas, serta pertunjukan budaya yang menampilkan keberagaman Indonesia. Festival ini tidak menempatkan pengunjung sebagai penonton pasif, melainkan mengajak mereka menjadi bagian dari ekosistem aksi yang terus berkembang, mendorong keterlibatan lebih dalam terhadap inisiatif akar rumput serta perubahan nyata yang melampaui ruang festival (*).
“”””
Tentang UNDP
UNDP merupakan organisasi utama Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berupaya mengakhiri ketidakadilan akibat kemiskinan, ketimpangan, dan perubahan iklim. Melalui jaringan luas para ahli dan mitra di 170 negara, UNDP membantu negara-negara membangun solusi terpadu dan berkelanjutan bagi manusia dan planet. Kunjungi undp.org atau ikuti @UNDP.
Tentang SGP
GEF Small Grants Programme (SGP) di Indonesia merupakan inisiatif global yang dilaksanakan oleh UNDP untuk mendukung organisasi masyarakat sipil dan komunitas lokal dalam mengatasi tantangan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan.











