Konsolidasi II Rakyat FORNAS-08: Nehemia Lawalata Ungkap Perjuangan 34 Tahun Mengantarkan Prabowo Menjadi Presiden
Jakarta, Indonesiatodays.com
Konsolidasi II Rakyat Forum Komunikasi Nasional (FORNAS)-08 bertajuk “Silaturahmi dan Musyawarah Organisasi Relawan Pendukung Program Astacita Presiden Prabowo” pada hari Sabtu (11/7/2026) bertempat Hotel Alia Jakarta Pusat, menjadi momentum memperkuat sinergi antarorganisasi relawan dalam mengawal implementasi Program Astacita Presiden Prabowo Subianto.
Dalam kesempatan tersebut, narasumber Nehemia Lawalata memaparkan perjalanan panjang perjuangan politik yang menurutnya telah dimulai sejak lebih dari tiga dekade lalu. Ia menegaskan bahwa keberhasilan Prabowo Subianto menjadi Presiden Republik Indonesia bukanlah proses yang instan, melainkan hasil dari perjuangan panjang yang telah dirancang sejak sekitar 34 tahun silam.
Nehemia menjelaskan bahwa gagasan besar tersebut berawal dari almarhum Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, yang disebutnya sebagai sosok penggagas arah perjuangan politik dan ekonomi bagi Indonesia. Menurutnya, dirinya mendapat amanah untuk membantu mengerjakan berbagai hal yang berkaitan dengan politik dan ekonomi sesuai dengan cita-cita besar yang telah dirumuskan.
Ia juga mengisahkan keterlibatannya sejak awal 1990-an dalam membangun jaringan politik bersama berbagai elemen generasi muda, organisasi kepemudaan, hingga alumni Kelompok Cipayung di berbagai daerah. Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat fondasi perjuangan menuju kepemimpinan nasional yang akhirnya mengantarkan Prabowo menjadi Presiden.
Nehemia mengungkapkan bahwa setelah dinamika politik pasca-Reformasi 1998, komunikasi dengan Prabowo sempat terputus. Namun hubungan kembali terjalin ketika Prabowo kembali ke Indonesia dari Yordania. Dalam berbagai pertemuan, dirinya bersama sejumlah tokoh mendorong Prabowo untuk membentuk partai politik sebagai kendaraan perjuangan, meski saat itu berbagai keterbatasan, termasuk persoalan pendanaan, masih menjadi tantangan.
Lebih lanjut, Nehemia menilai bahwa kondisi Indonesia pada 2014 hingga 2019 menghadapi berbagai persoalan serius, baik di bidang politik, ekonomi, persatuan nasional, maupun kebudayaan. Menurutnya, konsep ekonomi-politik yang diwariskan Prof. Sumitro menjadi salah satu solusi yang relevan untuk mengembalikan kedaulatan bangsa.
Ia menegaskan bahwa konsep tersebut menerima mekanisme ekonomi pasar, namun tetap berpihak kepada kepentingan rakyat serta menolak paham komunisme. Baginya, hubungan antara negara, pasar, dan rakyat harus dibangun secara seimbang melalui kebijakan yang melindungi kepentingan nasional.
Dalam paparannya, Nehemia juga mengapresiasi langkah Presiden Prabowo yang mendorong penguatan koperasi merah putih sebagai instrumen ekonomi rakyat. Menurutnya, koperasi merah putih memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas harga hasil pertanian, perikanan, dan berbagai produk masyarakat sehingga kesejahteraan rakyat dapat meningkat.
“Konglomerasi tetap boleh berkembang, tetapi harus bertumpu pada kekuatan ekonomi rakyat. Negara, pasar, dan koperasi harus berjalan beriringan agar tercipta keadilan ekonomi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mengakhiri praktik feodalisme dan politik yang hanya menguntungkan kelompok tertentu. Indonesia, katanya, harus kembali kepada semangat Proklamasi, nilai-nilai Pancasila, dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar pembangunan nasional.
Menutup pemaparannya, Nehemia Lawalata mengajak seluruh organisasi relawan untuk tetap bersatu mengawal kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto serta mendukung pelaksanaan Program Astacita demi mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, adil, dan sejahtera.
“Kita harus kembali kepada cita-cita Proklamasi dan Undang-Undang Dasar 1945. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, saya optimistis Indonesia Raya akan semakin maju dan mampu mengembalikan kedaulatan bangsa di bidang politik maupun ekonomi,” tutupnya.











