Tempe Goes to UNESCO, KOWANI Satukan Gerakan Pangan, Budaya dan Pemberdayaan Perempuan
Jakarta, Indonesiatodays.com
Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) memperkuat gerakan Tempe Indonesia Goes to UNESCO melalui rangkaian kegiatan yang memadukan olahraga, pelestarian budaya, ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, dan edukasi kesehatan masyarakat. Agenda yang digelar di halaman Kantor KOWANI, Jalan Imam Bonjol No. 58, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026), tersebut diikuti lebih dari 1.000 peserta.
Rangkaian kegiatan menjadi bagian dari program KOWANI Goes to UNESCO – Memory of the World, dengan agenda utama berupa Fun Walk 10.000 Langkah Sehat yang menempuh rute dari halaman Kantor KOWANI menuju kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan kembali ke Kantor KOWANI sebagai titik finis.
Ketua Umum KOWANI, Nannie Hadi Tjahjanto, mengatakan tempe memiliki potensi besar untuk dikembangkan tidak hanya sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari ketahanan pangan sekaligus sumber peluang ekonomi bagi masyarakat, khususnya perempuan.
Menurut Nannie, pengembangan tempe dapat dilakukan melalui berbagai inovasi bahan pangan lokal, tidak hanya berbasis kedelai, tetapi juga memanfaatkan sorgum dan aneka kacang-kacangan. Diversifikasi tersebut dinilai dapat melahirkan berbagai produk olahan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi perempuan.
“Tempe bukan hanya pangan, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber penghidupan keluarga,” ujar Nannie.
Nannie menilai penguatan ekonomi perempuan menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan keluarga. Melalui keterampilan, pelatihan, kursus, dan sertifikasi, perempuan diharapkan memiliki kemampuan untuk bekerja maupun mengembangkan usaha secara mandiri.
Selain Fun Walk, kegiatan tersebut diisi dengan Deklarasi Nasional Tempe Indonesia Goes to UNESCO, Festival Tempe, Nusantara Festival Sorgum, Nusantara Festival Cassava, Nusantara Cooking Experience, pameran koperasi dan UMKM, serta Senam Tai Chi.
Rangkaian acara juga dilengkapi dengan pemeriksaan kesehatan gratis, edukasi gizi dan pencegahan stunting, business matching, kegiatan interaktif, door prize bagi peserta dan pembagian bibit pohon produktif .
Deklarasi Tempe Indonesia Menuju UNESCO
Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah Deklarasi Nasional Tempe Indonesia Goes to UNESCO. KOWANI mendorong agar tempe semakin diperkuat sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang memiliki nilai historis, sosial, ekonomi, dan pangan.
Nannie Hadi Tjahjanto mengatakan semakin luasnya pengenalan tempe di berbagai negara menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat pelestarian dan pengakuan terhadap tradisi yang berkaitan dengan tempe.
Menurutnya, gerakan menuju UNESCO bukan sekadar mengejar pengakuan internasional, tetapi juga memastikan pengetahuan, keterampilan, dan tradisi pembuatan tempe tetap hidup serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
Tempe memiliki ekosistem yang luas, mulai dari petani dan penyedia bahan baku, perajin, pelaku UMKM, industri pengolahan hingga konsumen. Karena itu, penguatan tempe juga dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
“Kalau kita tidak bergerak cepat, sementara tempe semakin dikenal di berbagai negara, kita bisa tertinggal. Karena itu, tempe perlu terus kita dukung menuju UNESCO,” kata Nannie.
Pangan Lokal Jadi Kekuatan Ekonomi
Tidak hanya tempe, kegiatan tersebut turut mengangkat sejumlah komoditas pangan lokal melalui Nusantara Festival Sorgum dan Nusantara Festival Cassava. Kehadiran kedua festival tersebut memperlihatkan upaya KOWANI mendorong diversifikasi pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.
Menurut Nannie, pengembangan pangan lokal seperti sorgum dapat menjadi salah satu cara untuk memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus memperluas pilihan pangan masyarakat.
Sementara itu, singkong atau cassava juga memiliki potensi untuk diolah menjadi berbagai produk pangan bernilai ekonomi. Melalui Nusantara Cooking Experience, masyarakat diajak melihat bagaimana bahan pangan lokal dapat dikembangkan menjadi produk makanan yang lebih beragam dan menarik.
KOWANI memandang pengembangan pangan lokal perlu berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan dan pelaku UMKM. Dengan inovasi dan akses pasar yang lebih luas, pangan lokal dapat berkembang dari produk konsumsi menjadi sumber penghasilan baru.
Gerakan Pangan Murah Perkuat Ketahanan Pangan
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, KOWANI juga menghadirkan Gerakan Pangan Murah dalam rangka mendukung stabilisasi pasokan dan harga pangan.
Masyarakat dapat memperoleh sejumlah kebutuhan pokok dengan harga yang relatif terjangkau, di antaranya beras SPHP sekitar Rp12.000 per kilogram, beras premium Rp14.900 per kilogram, gula pasir Rp17.000 per kilogram, Minyakita Rp15.500 per liter, bawang putih Rp30.000 per kilogram, bawang merah Rp40.000 per kilogram, cabai merah keriting Rp40.000 per kilogram, cabai rawit merah Rp45.000 per kilogram, daging ayam Rp36.000 per kilogram, daging sapi Rp114.000 per kilogram, telur ayam Rp24.000 per kilogram, serta tepung terigu sekitar Rp12.000 per kilogram.
Harga tersebut merupakan harga dalam pelaksanaan Gerakan Pangan Murah dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Kehadiran Gerakan Pangan Murah memperkuat pesan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut keterjangkauan pangan bagi masyarakat serta stabilitas pasokan dan harga.
Kebaya, Perempuan dan Ekonomi Kreatif
Selain pangan, KOWANI juga terus mendorong pelestarian kebaya sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia. Kebaya yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda dinilai memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi kreatif.
Nannie Hadi Tjahjanto menilai ekosistem kebaya dapat melibatkan berbagai pelaku UMKM, mulai dari fesyen, aksesori, tata rias, kerajinan hingga produk pendukung lainnya.
Pelestarian budaya tersebut juga diarahkan agar dapat melibatkan generasi muda sehingga kebaya tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
Rangkaian kegiatan KOWANI juga memberikan perhatian terhadap aspek kesehatan masyarakat melalui pemeriksaan kesehatan gratis serta edukasi gizi dan pencegahan stunting.
Agenda tersebut melengkapi pesan KOWANI bahwa ketahanan keluarga tidak hanya dibangun melalui kemandirian ekonomi dan ketersediaan pangan, tetapi juga melalui pengetahuan mengenai kesehatan dan gizi.
Sementara itu, pameran koperasi dan UMKM serta business matching membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, membangun jejaring, dan memperluas peluang kerja sama.
Kegiatan tersebut memperlihatkan upaya menghubungkan berbagai aspek, mulai dari pangan, budaya, kesehatan hingga ekonomi dalam satu gerakan pemberdayaan masyarakat.
Kolaborasi Lintas Sektor
Pelaksanaan rangkaian kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Kementerian Pemberdayaan Masyarakat, KOWANI, dan Badan Pangan Nasional.
KOWANI juga melibatkan organisasi perempuan, komunitas, pelaku UMKM, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat gerakan ketahanan pangan dan pelestarian budaya Indonesia.
Melalui kegiatan ini, KOWANI ingin menunjukkan bahwa tempe dan berbagai pangan lokal Indonesia tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat dan ketahanan keluarga.
Dengan sekitar 1.000 peserta yang mengikuti Fun Walk serta beragam agenda pendukung, kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, organisasi perempuan, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat.
Bagi KOWANI, Tempe Indonesia Goes to UNESCO menjadi lebih dari sekadar gerakan pelestarian budaya. Gerakan ini diharapkan dapat membuka peluang bagi pengembangan pangan lokal, pemberdayaan perempuan, penguatan UMKM, peningkatan kesejahteraan petani, serta memperkenalkan kekayaan Indonesia ke tingkat global.
Melalui semangat “dari pangan lokal menuju ketahanan nasional”, KOWANI mendorong agar tempe dan kekayaan pangan Nusantara terus dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.











