Panggilan di Atas Pohon Ara: Pertemuan Dramatis Zakeus dan Sang Gembala yang Memburu

banner 468x60

Panggilan di Atas Pohon Ara: Pertemuan Dramatis Zakeus dan Sang Gembala yang Memburu

 

Oleh: Johanes Libu Doni (Penerjemah Ahli Muda Pustrajak Kumdil MA RI)

 

Kisah pertobatan Zakeus dalam Kitab Injil sering kali diajarkan di sekolah minggu sebagai cerita sederhana tentang seorang pemungut cukai bertubuh pendek yang memanjat pohon ara demi melihat Yesus.

Namun, jika kita menyelami narasi tersebut lebih dalam dan menghubungkannya dengan benang merah teologis Perjanjian Lama—khususnya konsep pengejaran ilahi dalam Mazmur 23:6—peristiwa di kota Yerikho ini berubah menjadi salah satu lukisan paling megah, mengharukan, dan dramatis tentang betapa luar biasanya belas kasih Allah yang aktif mencari serta “memburu” manusia agar pulang ke dalam pelukan-Nya.

Dalam artikel komprehensif ini, kita akan membedah bagaimana kisah Zakeus dalam Lukas (yang secara spesifik merujuk pada Lukas 19, dengan meluruskan catatan teologis mengenai konteks perjalanannya) merefleksikan kebenaran bahwa Allah kita bukanlah Allah yang pasif menunggu manusia bertobat dari kejauhan.

Sebaliknya, Ia adalah Gembala Agung yang mengutus kebajikan dan kemurahan-Nya dengan kata kunci Ibrani radaph (memburu)—untuk mengejar, menemukan, dan merangkok kembali domba domba-Nya yang tersesat ke rumah Bapa.

1. Menyelami Akar Konsep Radaph dalam Mazmur 23:6

Sebelum kita melangkah ke Jalanan kota Yerikho tempat Zakeus berdiri, kita harus kembali sejenak pada fondasi teologis yang dibangun oleh Raja Daud dalam Mazmur 23:6.

Terjemahan umum sering kali melemahkan makna ayat penutup mazmur tersebut menjadi: “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku…”

Kata “mengikuti” dalam bahasa Indonesia terdengar sangat pasif. Seolah-olah kebaikan Tuhan hanyalah bayangan yang mengekor di belakang kita saat kita berjalan.

Namun, naskah asli berbahasa Ibrani menggunakan kata kerja yang sangat kuat dan agresif: radaph (רָדַף). Kata ini secara konsisten digunakan dalam Perjanjian Lama untuk menggambarkan tindakan memburu, mengejar buruan di hutan, atau tentara musuh yang mengejar buronan perang dengan kecepatan penuh.

Ketika Daud menuliskan bahwa radaph dilakukan oleh “kebajikan” (tov) dan “kemurahan” (hesed), ia sedang menyatakan sebuah realitas teologis yang mencengangkan: Kasih Allah mengejar kita.

 Kasih itu tidak menunggu kita layak.
 Kasih itu tidak tinggal diam ketika kita lari menjauh.
 Kasih itu adalah pemburu surgawi yang melacak jejak langkah kita di setiap lorong gelap kehidupan, memastikan kita tidak binasa dalam keterasingan dosa.

2. Yerikho: Panggung Pertemuan Pengejaran Ilahi

Kota Yerikho dalam narasi Injil bukanlah tempat yang netral secara rohani. Kota ini adalah kota perdagangan yang sibuk, tempat bertumpuknya kekayaan, korupsi sistemik, dan tempat sistem penarikan pajak Romawi menindas rakyat kecil. Di tengah kota inilah Zakeus tinggal.

Zakeus bukan sekadar seorang pemungut cukai biasa; ia adalah kepala pemungut cukai dan ia kaya raya. Namun, di balik tumpukan uang dan jubah kemewahannya, Zakeus adalah seseorang yang mengalami pengasingan eksistensial yang parah. Ia dibenci oleh bangsa sendiri karena dianggap sebagai pengkhianat yang bekerja untuk penjajah Romawi, dan ia dijauhi secara agama karena dianggap najis.

Zakeus hidup dalam pelarian moral. Ia memiliki segalanya secara materi, tetapi mati secara rohani. Namun, tanpa disadari oleh Zakeus, hari itu ia menjadi sasaran sebuah “pengejaran” yang jauh lebih besar daripada urusan pajak. Langkah kaki Yesus dari Nazaret yang melewati Yerikho bukanlah kebetulan geografis, melainkan pergerakan Sang Gembala yang sedang menelusuri jejak domba yang paling terhilang di sudut kota itu.

3. Zakeus yang “Memburu” untuk Dilihat, Padahal Sedang “Diburu”
Ada sebuah ironi yang sangat indah ketika kita membaca teks tentang Zakeus yang berusaha melihat Yesus. Karena tubuhnya pendek dan terhalang oleh orang banyak, Zakeus berlari mendahului orang banyak lalu memanjat sebuah pohon ara agar bisa melihat Yesus yang akan lewat di situ.

Permukaan teks memperlihatkan Zakeus yang aktif mencari Yesus. Namun, jika kita melihat dengan kacamata teologi Mazmur 23:6, dinamika yang terjadi sebenarnya jauh lebih dalam: Zakeus mengira dirinyalah yang sedang mencari Yesus, tetapi sejatinya ia sedang diburu oleh kasih karunia Allah.

 Pelariannya mendahului orang banyak merupakan respons naluriah terhadap tarikan anugerah ilahi.
 Pohon ara tempat ia bersembunyi di atas dahan-dahannya bukanlah tempat persembunyian dari kejaran manusia, melainkan titik perhentian tempat sang Pemburu ilahi sudah menunggunya.

Tindakan Zakeus memanjat pohon adalah metafora visual tentang jiwa manusia yang berjuang keluar dari kerumunan dosa dan keputusasaan dunia, mengangkat dirinya di atas standar masyarakat, hanya untuk menemukan bahwa pandangan mata Allah telah lebih dulu terkunci padanya.

4. Momen Perhentian: Ketika Sang Pemburu Menemukan Buruannya
Puncak dari narasi ini terjadi ketika Yesus sampai di tempat pohon ara tersebut. Yesus tidak berjalan terus melampaui pohon itu. Yesus berhenti. Ia menengadah ke atas, dan terjadilah kontak mata yang mengubah keabadian.

Yesus memanggil namanya dengan penuh keintiman: “Zakeus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

Perhatikan katakata Yesus ini. Yesus tidak berkata, “Hai pemungut cukai yang berdosa, datanglah ke Bait Allah jika kamu ingin diampuni.”

Tidak. Yesus mengundang diri-Nya sendiri untuk masuk ke dalam ruang privat kehidupan Zakeus. Yesus mendatangi tempat kotor Zakeus, meruntuhkan tembok isolasi sosial yang mengurung pria tersebut selama bertahun-tahun.

Di sinilah wujud nyata dari kata radaph (memburu). Kebajikan dan kemurahan Allah tidak menyuruh Zakeus datang kepada-Nya dari kejauhan; kasih itu berlari menyusul Zakeus ke atas dahan pohon ara, menangkapnya dalam pelukan penerimaan, dan berkata, “Aku datang khusus untuk mencari dan menyelamatkan engkau yang hilang.”

5. Respons Hati: Buah Manis dari Pengejaran Anugerah

Reaksi Zakeus terhadap perjumpaan dengan Yesus sangatlah revolusioner dan seketika. Zakeus segera turun dan menyambut Yesus dengan sukacita. Ketika orang banyak bersungut-sungut melihat Yesus menumpang di rumah seorang berdosa, Zakeus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milik-milikku akan kuberikan kepada orang miskin, dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang, akan kukembalikan empat kali lipat.”

Transformasi moral ini membuktikan bahwa perjumpaan dengan kasih Allah yang memburu tidak pernah meninggalkan seseorang dalam keadaan yang sama.

 Zakeus tidak dipaksa oleh hukum Taurat atau ancaman hukuman untuk bertobat.
 Ia diubahkan oleh belas kasih yang agresif.

Kekayaan yang selama ini menjadi berhala pelindungnya—yang dikumpulkannya dengan cara memeras sesamanya—rela ia lepaskan begitu saja. Mengapa?

Karena ia telah menemukan harta yang jauh lebih besar: perkenanan dan kasih Sang Pencipta yang tidak lagi memandang dia sebagai sampah masyarakat, melainkan sebagai anak Abraham.

6. Zakeus dan Mazmur 23:6: Rumah TUHAN dan Kepulangan yang Abadi

Jika kita menyandingkan kisah Zakeus dengan klaim penutup Mazmur 23:6—”…dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa”—kita akan melihat hubungan teologis yang sangat menakjubkan.

Rumah Zakeus pada hari itu, meskipun sempat dicemooh oleh orang-orang Farisi dan penduduk Yerikho sebagai sarang penyamun dan orang berdosa, mendadak berubah menjadi “rumah TUHAN”.

Kehadiran Yesus di ruang tamu Zakeus membawa suasana bait suci yang kudus ke dalam rumah yang sebelumnya penuh keculasan.
Pengejaran kebajikan dan kemurahan Allah pada akhirnya selalu bermuara pada satu tujuan akhir: membawa manusia pulang. Zakeus, yang tadinya orang buangan yang terasing dari umat Allah, kini dibawa masuk kembali ke dalam persekutuan yang utuh dan kekal bersama Bapa. Ia tidak lagi lari dari kenyataan hidup; ia duduk dalam damai sejahtera di hadapan JuruselamatNya.

7. Refleksi Teologis: Allah yang Terus Mencari Manusia Hari Ini

Kisah Zakeus dan kaitannya dengan Mazmur 23:6 bukanlah sekadar catatan sejarah kuno tentang seorang pemungut cukai di Yerikho. Kisah ini adalah cermin rohani bagi setiap manusia yang hidup di era modern ini.

Banyak orang hari ini hidup seperti Zakeus:
 Merasa terasing di tengah keramaian kota besar.
 Memiliki kesuksesan materi tetapi mengalami kehampaan batin yang mendalam.
 Merasa terlalu kotor, terlalu berdosa, atau terlalu jauh dari jangkauan Tuhan sehingga mengira Tuhan tidak akan pernah sudi melirik mereka.

Namun, narasi Injil dan pesan Mazmur 23 menegaskan kebenaran yang memerdekakan: Tidak ada manusia yang berada di luar jangkauan pengejaran belas kasih Allah.

Bahkan ketika kita bersembunyi di atas “pohon ara” kebiasaan buruk kita, di balik topeng kesuksesan duniawi, atau di dalam gua-gua ketakutan dan rasa bersalah, kasih Allah yang diibaratkan sebagai pemburu yang setia (radaph) terus melacak langkah kita. Ia datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk memanggil nama kita satu per satu, mengundang kita turun, dan berkata bahwa hari ini keselamatan telah datang ke dalam rumah hati kita.

Kesimpulan

Kisah Zakeus dalam Lukas, yang dijiwai oleh semangat teologis Mazmur 23:6, adalah mahakarya tentang belas kasih ilahi. Kata radaph (memburu) menemukan wujud manusianya dalam diri Yesus Kristus yang berjalan melewati Yerikho, menengadah ke atas pohon ara, dan mengubah hidup seorang pendosa besar menjadi anak yang dikasihi.

Kasih Allah bukanlah konsep teoretis yang dingin; kasih itu aktif, agresif dalam kebaikan, penuh pengampunan, dan mengejar kita sampai ke tempat terdalam keputusasaan. Mari kita berhenti berlari ketakutan dari hadapan Tuhan. Biarkan diri kita “tertangkap” oleh pelukan Sang Gembala Agung, dan sambutlah sukacita kepulangan sejati ke dalam rumah persekutuan bersamaNya untuk selamalamanya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *