Assistant Executive Director GAPKINDO (Gabungan Perusahaan Karet Indonesia), Dr. Uhendi Haris: Pasokan Bahan Baku Anjlok, GAPKINDO Buka Suara Soal Utilisasi Pabrik Karet yang Baru Capai 50 Persen

banner 468x60

Assistant Executive Director GAPKINDO (Gabungan Perusahaan Karet Indonesia), Dr. Uhendi Haris: Pasokan Bahan Baku Anjlok, GAPKINDO Buka Suara Soal Utilisasi Pabrik Karet yang Baru Capai 50 Persen

 

​Jakarta, Indonesiatodays.com

 

Industri pengolahan karet nasional saat ini tengah menghadapi ganjalan serius akibat menurunnya pasokan bahan baku dari sektor hulu. Kondisi ketimpangan antara kapasitas olah industri dan hasil produksi perkebunan rakyat ini dinilai mulai berdampak langsung pada performa serta volume ekspor karet nasional ke pasar global.

​Assistant Executive Director GAPKINDO (Gabungan Perusahaan Karet Indonesia), Dr. Uhendi Haris, mengungkapkan bahwa kapasitas terpasang industri pengolahan karet nasional sebenarnya sangat besar, yakni mencapai lebih dari 4 juta ton per tahun. Namun, akibat keterbatasan bahan olah karet (Bokar) di tingkat petani, utilisasi pabrik saat ini terpaksa beroperasi jauh di bawah potensi maksimalnya.

​”Kalau dari sisi industri, kita siap semua. Penurunan ekspor itu terjadi karena bahan olah karet yang dihasilkan petani mengalami penurunan, padahal kapasitas pabrik yang dimiliki anggota Gapkindo sangat besar,” ujar Dr. Uhendi saat ditemui di sela-sela acara pengukuhan kepengurusan DPP APKARINDO dan Diskusi Nasional bersama Petani Karet di Auditorium Gedung F, Kementerian Pertanian RI, Jakarta, Senin (14/9/2026).

​Dr. Uhendi mencatat, saat ini tingkat utilisasi pabrik karet nasional baru berada di kisaran 50 persen, atau hanya mampu mengolah sekitar 2 juta ton bahan baku per tahun. Kondisi memprihatinkan ini menunjukkan adanya kesenjangan (gap) yang melebar antara kapasitas serap industri modern dengan kemampuan produksi perkebunan rakyat di lini hulu.

​Modernisasi Petani Jadi Agenda Mendesak

​Guna memangkas kesenjangan tersebut, GAPKINDO menegaskan bahwa modernisasi di tingkat petani merupakan agenda krusial yang tidak bisa ditunda lagi.

Langkah-langkah strategis seperti percepatan program peremajaan tanaman (replanting), penerapan teknologi budidaya modern, penyediaan bibit unggul, hingga perbaikan tata kelola perkebunan rakyat dinilai vital untuk mendongkrak kembali produktivitas karet hulu.

​”Modernisasi di tingkat petani menjadi langkah penting agar produksi bahan olah karet kembali meningkat dan dapat memenuhi kapasitas pabrik yang sudah tersedia,” tegas Dr. Uhendi.

​Di sisi lain, GAPKINDO menyambut positif respons dan komitmen pemerintah melalui Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian yang menekankan pentingnya perhatian menyeluruh terhadap komoditas perkebunan strategis, termasuk karet. Kebijakan yang pro-petani diharapkan mampu memberikan ruang gerak seimbang bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat daerah sekaligus menjaga stabilitas devisa negara dari sektor komoditas.

​Sinergi Pemangku Kepentingan

​Momentum pengukuhan kepengurusan baru APKARINDO ini diharapkan menjadi titik balik lahirnya energi baru, khususnya bagi generasi muda dan petani karet, untuk berkolaborasi mengatasi berbagai persoalan sistemik yang membelenggu industri perkaretan nasional.

​”Ini momentum bagi anak-anak muda yang ingin berjuang untuk petani karet. Dari sisi pemerintah juga sudah memberikan dorongan, jadi ini ibarat gayung bersambut. Harapan kita, seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, petani, hingga organisasi seperti Gapkindo—punya komitmen yang sama. Jika pasokan bahan olah dari petani siap dan memadai, industri siap menyerap dan mengoptimalkan kembali potensi ekspor karet Indonesia,” pungkasnya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *