APA KITA SUDAH BERKEPRIBADIAN DALAM KEBUDAYAAN?

banner 468x60

APA KITA SUDAH BERKEPRIBADIAN DALAM KEBUDAYAAN?

Oleh: Yudhie Haryono
CEO Nusantara Centre

 

Ini pertanyaan purba. Tetapi, tak jua ada jawabnya. Mengapa kebudayaan “negatif” kita (KKN) makin merajalela? Padahal, KPK sudah kita buat. Polri sudah kita perkuat. Jaksa dan hakim sudah ikut Lemhanas. Institusi hukum sudah kita tambah anggarannya.

Tetapi budaya KKN itu seperti waktu mati, semua tentangnya makin teka-teki dan misteri. Jika teka-teki adalah sesuatu yang membingungkan, atau jebakan, atau kerja menyesatkan, atau memuleskan yang diajukan sebagai problema yang harus dipecahkan atau ditebak, maka misteri itu “kegelapan” dalam terang yang membutuhkan lilin untuk menemukan jendela-jendela harapan.

Sesungguhnya, menghabisi budaya KKN itu haparan, cita-cita sekaligus tumpukan perlawanan yang menjemukan. Kenapa menjemukan? Sebab, alih-alih berkurang, budaya KKN makin berkelindan dan mentradisi. Karena itu, kita perlu cara baru untuk memutus budaya buruk itu dengan budaya baik. Inilah strategi kebudayaan nasional. Sebab, inilah puncak-puncak cita-cita negara Pancasila.

Tentu, tujuannya adalah untuk mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, memperkaya keberagaman budaya negara, memperteguh jati diri Indonesia, memperteguh persatuan dan kesatuan warganegara, mencerdaskan kehidupan kita, meningkatkan citra peradaban, mewujudkan masyarakat madani, meningkatkan kesejahteraan rakyat, plus melestarikan dan mewarisksn harta kejeniusan.

Kita tahu bahwa bangsa yang berkepribadian dalam kebudayaan adiluhung mampu mempertahankan keberagaman budayanya dan meneruskannya kepada generasi mendatang. Identitas budaya ini mencakup segala aspek kehidupan, seperti seni, bahasa, adat istiadat, makanan, agama, dan sistem nilai yang menjadi acuan dalam berinteraksi di masyarakat.

Hatta (1947) menyebut bahwa kebudayaan nasional adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa agar berdaulat dan bermartabat. Kebudayaan lahir dan tumbuh di dalam masyarakat yang terus muncul seiring dengan denyut nadi kehidupannya agar mereka saling padu dalam kebaikan dan prestasi, sekaligus penetrasi dan dominasi ke semesta.

Tentu saja, hasil kebudayaan dapat berupa ide gagasan, tindakan, kreasi, inovasi dan juga benda. Berupa ide atau gagasan bisa berbentuk perundangan; dalam bentuk tindakan berupa kesenian; dalam kreasi dan inovasi berupa kota-desa plus peradaban; dalam bentuk benda berupa bangunan dan infrastruktur.

Apa strategi kita dalam pembangunan kebudayaan nasional? Saya menawarkan dengan kalimat: “al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih, wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah” (artinya memelihara budaya lama yang baik sambil mengambil dan mencipta budaya baru yang lebih baik).

Agar budaya lama yang masih bagus dan budaya baru lebih bagus berkembang terus kita harus menyiapkan barisan; membariskan pasukan; mengkreasi program; memenangkan pertempuran; menikmati peperangan; menegaskan keikhlasan. Kita harus satukan modal, model dan modul (3M) secara serentak dalam bermilyar pukulan.

Tentu saja, kerja raksasa itu tidak mudah. Sebab, kini kita sedang menghadapi masalah besar pada enam profesi: 1)Para lawyer (ahli hukum) yang lupa diri sehingga menikmati kerusakan penegakan hukum yang ada untuk kepentingannya sendiri; 2)Para budayawan yang memproduksi tontonan sekedar mengkolek rupiah sehingga tidak memberikan tuntunan;

3)Para perwira yang memilih jadi jongos dan centeng penguasa dzalim dan taipan hitam daripada bersikap menegakkan kedaulatan rakyat demi marwah negara dan bangsanya; 4)Para politisi yang menikmati kerusakan praktek politik sehingga membuat mereka jadi jongos dan penjilat konglomerat hitam;

5)Para pemuka agama dan spiritualis yang lemah dan tak berdaya menggilas kemungkaran; 6)Para dokter yang memilih memberi racun kimia ke pasiennya daripada memberikan herbal dan jamu yang menyehatkan mereka.

Untuk itu, kita harus fokus mencapai tujuan, fokus mempraktekkan metoda, serius merealisasikan hipotesa, meskipun banyak hal yang menarik dan mengganggu dalam perjalanannya. Singkatnya, kita harus sabar menikmati fase kalah menangnya.

Kita harus beriman bahwa jiwa, tubuh, akal dan impian ini dijodohkan semesta. Maka, anak-anak brilian kita akan lahir di gemuruh nusantara. Arus balik kebaikan akan menjelma. Lalu, semua akan jadi kepribadian kuat, mental mumpuni, karakter unggulan, pancasila values serta datanglah mukjizat yang mestakung. Inilah kredo: kebudayaan nasional kita yang akan bercorak berkepribadian dalam kebudayaan.

Inilah kebudayaan nasional Indonesia sebagai identitas nasional. Inilah jati diri bangsa yang sesungguhnya, sekaligus pribadi pancasila, bukan KKN seperti setiap hari kita saksikan di televisi. Semoga.(*)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *