LMND Gelar Diskusi Kemandirian Energi, Dorong Pengelolaan Sumber Daya Alam untuk Kemakmuran Rakyat

banner 468x60

LMND Gelar Diskusi Kemandirian Energi, Dorong Pengelolaan Sumber Daya Alam untuk Kemakmuran Rakyat

 

Jakarta, Indonesiatodays.com

 

Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) menggelar diskusi bertajuk “Kemandirian Energi untuk Kemakmuran Rakyat” di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, Senin (22/9/2026).

Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya Goldy Herdiyansyah Doelah, S.T., M.T., IPP, Pengurus Pusat BKTI PII; Ir. Wisnu Salman, S.T., IPM., ACPE., ASEAN Eng., C.EIA, Wakil Ketua Komisi Tetap Ketahanan Energi KADIN Indonesia; Yudi Nugraha, Senior Manager Relations PT Pertamina Hulu Rokan (PHR); serta Hendro Syukur, Staf Wasekjend LMND.

Forum ini membahas berbagai persoalan strategis energi Indonesia, mulai dari ketergantungan terhadap impor minyak, pengelolaan pertambangan, energi baru dan terbarukan, hingga pentingnya kebijakan energi yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dalam paparannya, Ir. Wisnu Salman menekankan bahwa sektor pertambangan masih memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat dan perekonomian nasional. Hampir seluruh aktivitas kehidupan modern, menurutnya, tidak terlepas dari hasil pertambangan.

Namun, kebutuhan tersebut harus diimbangi dengan tata kelola pertambangan yang bertanggung jawab, termasuk memperhatikan dampak lingkungan dan kepentingan masyarakat sekitar.

“Tidak mungkin kita tanpa pertambangan. Hampir semua aktivitas kita bersumber dari pertambangan. Tetapi bagaimana kegiatan pertambangan itu memberikan keberkahan, dilakukan secara efektif, dan memperhatikan dampak penambangan yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

Wisnu juga menyoroti dinamika sektor pertambangan yang dipengaruhi oleh perubahan ekonomi global, kebijakan pemerintah, kebijakan perdagangan internasional, hingga fluktuasi harga komoditas.

Menurutnya, konsistensi kebijakan menjadi salah satu faktor penting agar pelaku usaha, masyarakat lokal, dan pemerintah memiliki kepastian dalam mengembangkan sektor pertambangan.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya memperkuat pemanfaatan sumber energi domestik. Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak, menurutnya, menjadi tantangan serius karena kebutuhan BBM nasional masih lebih besar dibandingkan produksi minyak dalam negeri.

“Produksi minyak kita sekitar 600 ribu, sementara kebutuhannya sekitar satu juta. Artinya kita masih membutuhkan impor,” jelasnya.

Wisnu kemudian mendorong pengembangan berbagai sumber energi, termasuk energi surya, air, angin, panas bumi, serta pengembangan bahan bakar berbasis pertanian.

Menurutnya, pengembangan energi berbasis komoditas pertanian seperti singkong dan jagung juga dapat membuka pasar baru bagi hasil pertanian sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Sementara itu, Goldy Herdiyansyah Doelah menilai persoalan kemandirian energi tidak cukup hanya dilihat dari produk akhirnya. Seluruh proses produksi energi, mulai dari eksplorasi, pengolahan, distribusi hingga dampak lingkungan, harus menjadi bagian dari evaluasi.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia masih menghadapi keterbatasan produksi minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Kondisi tersebut membuat Indonesia masih bergantung terhadap impor dan rentan terhadap perubahan geopolitik serta gangguan rantai pasok global.

“Indonesia sendiri belum mampu memproduksi secara nasional untuk memenuhi konsumsi energi kita. Hanya sekitar 37 persen, sementara sisanya membutuhkan impor,” ungkapnya.

Menurut Goldy, konflik geopolitik global juga dapat memengaruhi ketersediaan maupun harga energi. Karena itu, ketahanan energi harus ditempatkan sebagai bagian dari kepentingan strategis nasional.

Goldy juga mengkritisi cara pandang yang hanya melihat teknologi energi baru terbarukan dari produk akhirnya. Ia mencontohkan kendaraan listrik yang memang tidak menghasilkan emisi secara langsung saat digunakan, tetapi sumber listrik untuk mengisi baterainya tetap perlu diperhatikan.

“Kalau kita bicara mobil listrik, memang pada saat digunakan tidak menghasilkan emisi. Tetapi yang harus kita pertanyakan adalah dia ngecasnya pakai apa? Listriknya diproduksi dari mana?” katanya.

Hal serupa, lanjut Goldy, berlaku pada pengembangan baterai kendaraan listrik yang membutuhkan mineral seperti nikel. Proses eksplorasi dan produksinya perlu memperhatikan dampak lingkungan serta kehidupan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan.

“Kalau kita melihat energi baru terbarukan, kita tidak boleh hanya melihat hasil produknya. Kita juga harus melihat prosesnya,” tegasnya.

Ia menilai audit energi menjadi salah satu langkah penting sebelum mendorong transformasi menuju energi baru dan terbarukan secara lebih luas. Audit tersebut diperlukan untuk mengetahui tingkat konsumsi, potensi pemborosan, serta peluang efisiensi energi di kawasan industri, transportasi maupun bangunan.

Dari sisi industri hulu migas, Yudi Nugraha, Senior Manager Relations PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), menjelaskan bahwa energi pada dasarnya merupakan sesuatu yang memungkinkan manusia dan aktivitas ekonomi bergerak.

Yudi memperkenalkan PHR sebagai salah satu anak perusahaan Pertamina yang melakukan eksplorasi dan produksi minyak bumi di wilayah Sumatera, khususnya Riau.

Menurutnya, pembicaraan mengenai kemandirian energi tidak hanya menyangkut angka produksi minyak dan konsumsi BBM, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi masyarakat.

“Kemandirian energi untuk kemakmuran rakyat itu sebenarnya sederhana. Energi adalah sesuatu yang bisa membuat kita bergerak, baik menggerakkan tubuh, kendaraan maupun aktivitas lainnya,” ujar Yudi.

Ia juga memaparkan kompleksitas kegiatan industri hulu migas. Produksi minyak membutuhkan investasi besar, teknologi, sumber daya manusia, serta pengelolaan hubungan dengan masyarakat.

Yudi menjelaskan bahwa kegiatan pengeboran satu sumur minyak membutuhkan biaya yang besar dan belum tentu langsung menghasilkan produksi sesuai harapan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa membangun kemandirian energi membutuhkan proses panjang, investasi, teknologi dan tata kelola yang kuat.

Selain itu, aspek sosial dan lingkungan juga menjadi perhatian dalam operasional industri migas. Ia mencontohkan pentingnya pengelolaan masyarakat ketika terjadi persoalan seperti kebocoran pipa atau kegiatan yang berdampak terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Diskusi yang digelar LMND tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kemandirian energi memiliki dimensi yang luas. Tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi minyak dan gas, tetapi juga menyangkut pertambangan, energi terbarukan, efisiensi energi, teknologi, lingkungan, kebijakan pemerintah serta kesejahteraan masyarakat.

Kemandirian energi membutuhkan kesinambungan antara sumber daya alam yang dimiliki Indonesia dengan kemampuan nasional dalam mengolah, menggunakan dan mengembangkan teknologi energi.

Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat dan perubahan kondisi geopolitik global, penguatan produksi energi domestik sekaligus pengembangan energi baru dan terbarukan menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan energi nasional.

Melalui forum tersebut, LMND mendorong agar agenda kemandirian energi tidak berhenti pada persoalan produksi semata, tetapi diarahkan untuk memastikan sumber daya energi Indonesia dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Diskusi juga menjadi ruang pertukaran gagasan antara mahasiswa, organisasi masyarakat, dunia usaha dan praktisi energi untuk mencari perspektif yang lebih komprehensif mengenai masa depan energi Indonesia.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *