Perempuan Tionghoa Indonesia Emas (PTIE) Membantu Membuka Peluang agar Produk-produk Lokal Indonesia Semakin dikenal di Pasar Internasional.
JAKARTA, Indonesiatodays.com
Perempuan Tionghoa Indonesia Emas (PTIE) terus mendorong pemberdayaan perempuan melalui penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekaligus membuka peluang agar produk-produk lokal Indonesia semakin dikenal di pasar internasional.
Semangat tersebut terlihat dalam keikutsertaan PTIE pada 2026 China (Indonesia) International E-Commerce Industry Expo yang berlangsung di JI-Expo Kemayoran, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Dalam ajang tersebut, PTIE memberikan ruang bagi sejumlah pelaku UMKM binaan untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat dan calon pasar yang lebih luas.
Ketua Umum Perempuan Tionghoa Indonesia Emas (PTIE) Elisabeth Majuyetty, yang akrab disapa Emma, mengatakan keikutsertaan UMKM perempuan dalam pameran tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi ajang promosi, tetapi juga membuka peluang peningkatan penjualan dan kesejahteraan para pelaku usaha.
“Harapannya semua produksi dari perempuan-perempuan bisa dikenal, ramai, laris, sehingga bisa menyejahterakan anggota UMKM ,” ujar Emma saat ditemui di booth PTIE.
Menurut Emma, produk-produk UMKM Indonesia memiliki potensi untuk diperkenalkan lebih luas, termasuk ke pasar China. Ia melihat kerja sama dan hubungan antara Indonesia dan China dapat menjadi momentum untuk saling memperkenalkan produk serta membuka kesempatan baru bagi pelaku UMKM.
“Kita saling bekerja sama, saling memperkenalkan. Kita juga ingin semua produk Indonesia mereka kenal, mereka tahu,” katanya.
Beragam produk UMKM ditampilkan di booth PTIE. Produk yang hadir antara lain kulit ikan, kerupuk kulit, kacang bawang, siomay, serta aneka arem-arem dengan pilihan isian telur, oncom, dan ayam. Selain itu, pengunjung juga dapat menemukan kopi produksi sendiri, kue gabus, mochi dengan berbagai rasa, hingga nastar gepeng.
Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa produk UMKM perempuan tidak hanya berkutat pada satu jenis usaha. Produk makanan tradisional dan olahan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan kuliner lokal sekaligus mencari peluang agar dapat berkembang ke pasar yang lebih luas.
Emma menyebutkan, dalam program pembinaan yang dijalankan, terdapat sekitar 30-an pelaku UMKM yang telah ikut serta. Namun, karena keterbatasan ruang pameran, pada kesempatan kali ini sekitar enam pelaku UMKM mendapatkan kesempatan untuk menampilkan produknya secara langsung di booth PTIE.
Sementara itu, Tjin Tjin mengatakan salah satu tantangan yang tengah dihadapi UMKM adalah kesiapan menuju ekosistem usaha digital. Karena itu, proses pembinaan dilakukan secara bertahap, termasuk membantu memastikan kelengkapan berbagai perizinan yang diperlukan oleh pelaku usaha.
Ia menambahkan, ke depan UMKM PTIE akan dikelompokkan berdasarkan jenis produk yang dikembangkan, seperti makanan maupun kerajinan tangan.
Menurutnya, keikutsertaan kali ini juga menjadi momentum khusus karena UMKM makanan mendapat kesempatan untuk tampil secara lebih terarah. Sebelumnya, peserta UMKM dalam kegiatan serupa lebih banyak berasal dari berbagai jenis usaha yang ditampilkan secara bercampur.
PTIE berharap partisipasi dalam pameran tersebut dapat memberikan pengalaman sekaligus membuka akses pasar baru bagi para pelaku UMKM. Semakin banyak masyarakat dan calon konsumen mengenal produk mereka, semakin besar pula peluang untuk meningkatkan penjualan dan mengembangkan usaha.
“Semakin ramai, teman-teman UMKM juga semakin senang, semakin dikenal. Targetnya semoga semakin laris, jadi semakin maju,” kata Tjin Tjin.
Sebagai organisasi yang menjadi wadah bagi perempuan Tionghoa di Indonesia, PTIE berfokus pada pemberdayaan perempuan, penguatan kebersamaan, aksi sosial, serta pelestarian keragaman budaya Tionghoa.
Di samping perannya di PTIE, Elisabeth Majuyetty juga aktif menjabat sebagai Kepala Departemen Komunikasi, Informasi, Budaya, dan Pariwisata di Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Pusat.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, PTIE terus mendorong perempuan untuk semakin produktif, mandiri, dan mampu membawa produk Indonesia lebih jauh ke pasar global.











