Tentu Pelukan di Ujung Lembah Kekelaman: Kerahiman Allah dalam Mazmur 23 dan Lukas 15
Oleh: Johanes libur Doni penerjemah Ahli Muda pustrajak kumdil Mahkamah Agung
Bayang-bayang kekelaman kerap menjadi bagian dari perjalanan hidup manusia. Krisis, kehilangan, kegagalan, hingga rasa bersalah karena dosa dapat membuat seseorang merasa terasing dan tidak lagi memiliki jalan untuk kembali.
Namun, dua bagian Alkitab menggambarkan pesan yang berbeda: kegelapan bukan berarti akhir dari perjalanan. Mazmur 23:4 dan perumpamaan tentang anak yang hilang dalam Lukas 15 sama-sama berbicara tentang kehadiran dan kerahiman Allah kepada manusia yang berada dalam kondisi paling rapuh.
Dalam Mazmur 23:4, pemazmur berkata, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”
Ungkapan “lembah kekelaman” berasal dari istilah Ibrani gei salmavet, yang secara harfiah merujuk pada lembah bayang-bayang maut. Dalam konteks kehidupan manusia, gambaran tersebut dapat dibaca sebagai pengalaman menghadapi penderitaan, kehilangan, ancaman, maupun kejatuhan moral.
Mazmur itu tidak menjanjikan bahwa orang beriman akan terbebas dari lembah. Sebaliknya, pesan utamanya adalah bahwa Tuhan hadir ketika seseorang melewati lembah tersebut.
Gambaran Allah sebagai Gembala menjadi penting dalam bagian ini. Gembala bukan hanya sosok yang berdiri dari kejauhan dan mengawasi kawanan. Ia menjaga, melindungi, dan menuntun domba yang berada dalam bahaya.
Gada dan tongkat yang disebut dalam Mazmur 23 menjadi simbol perlindungan dan tuntunan. Kehadiran sang Gembala memberikan keyakinan bahwa perjalanan melalui tempat gelap tidak harus dijalani sendirian.
Gambaran tersebut menemukan padanannya dalam Lukas 15. Dalam perumpamaan yang disampaikan Yesus, seorang anak bungsu meminta bagian warisannya, meninggalkan rumah, lalu menghabiskan seluruh kekayaannya di negeri yang jauh.
Setelah hartanya habis, kehidupan anak itu berubah drastis. Ia jatuh miskin dan kelaparan. Ia bahkan bekerja memberi makan babi, sebuah kondisi yang menggambarkan titik terendah dalam perjalanan hidupnya.
Negeri yang jauh dalam kisah tersebut dapat dibaca sebagai gambaran keterasingan manusia dari sumber kehidupannya. Anak itu tidak semata-mata menjadi korban keadaan. Ia sendiri memilih meninggalkan rumah dan menggunakan kebebasannya untuk menjalani kehidupan yang berujung pada kehancuran.
Namun, titik terendah tersebut justru menjadi awal kepulangan.
Lukas mencatat bahwa anak itu akhirnya menyadari keadaannya. Ia mengingat rumah bapanya dan memutuskan untuk kembali. Ia mengakui kesalahannya dan tidak lagi menuntut hak sebagai anak. Ia bahkan bersedia menjadi pekerja di rumah bapanya.
Pertobatan dalam kisah itu tidak berhenti pada penyesalan. Ada pengakuan kesalahan dan tindakan nyata untuk kembali.
Yang kemudian terjadi justru menjadi bagian paling mengejutkan dari perumpamaan tersebut.
Ketika anak itu masih jauh, sang ayah telah melihatnya. Ia tergerak oleh belas kasihan, berlari mendapatkannya, merangkul, dan menciumnya.
Sikap sang ayah memperlihatkan gambaran kerahiman yang tidak menunggu manusia menjadi sempurna terlebih dahulu. Sang ayah tidak berdiri di depan rumah untuk menyampaikan daftar kesalahan anaknya. Ia bergerak menyambut kepulangan anak tersebut.
Pemulihan pun tidak diberikan setengah-setengah.
Sang ayah memerintahkan agar anak itu dikenakan jubah terbaik, diberi cincin dan kasut, serta disiapkan pesta. Ia menjelaskan alasannya: “Anakku ini telah mati dan hidup kembali, ia telah hilang dan didapat.”
Jubah, cincin, dan pesta dalam narasi tersebut menggambarkan pemulihan martabat. Anak yang sebelumnya merasa tidak layak diterima sebagai anak kembali ditempatkan dalam hubungan keluarga.
Pesan itu sekaligus memperlihatkan bahwa pengampunan dalam perspektif Injil bukan sekadar penghapusan kesalahan. Ada pemulihan relasi.
Namun, Lukas 15 tidak hanya bercerita tentang anak bungsu. Ada anak sulung yang tetap berada di rumah tetapi menolak ikut bersukacita ketika adiknya kembali.
Anak sulung merasa dirinya lebih layak. Ia telah bekerja dan menaati perintah ayahnya, tetapi tidak memahami mengapa adiknya yang telah menghamburkan harta justru disambut dengan pesta.
Di sinilah kisah tersebut membawa persoalan lain: seseorang dapat berada dekat dengan rumah, tetapi jauh dari hati sang Bapa.
Sikap anak sulung menjadi peringatan terhadap kesalehan yang berubah menjadi kesombongan. Ketaatan yang seharusnya melahirkan belas kasih justru dapat berubah menjadi alasan untuk menghakimi orang lain.
Dalam konteks yang lebih luas, gambaran Allah yang penuh belas kasih telah muncul sejak Perjanjian Lama. Dalam Keluaran 34:6, Allah diperkenalkan sebagai Tuhan yang penyayang dan pengasih, panjang sabar, serta berlimpah kasih dan kesetiaan.
Mazmur 23 dan Lukas 15 menghadirkan karakter tersebut melalui dua gambaran yang berbeda. Dalam Mazmur, Allah tampil sebagai Gembala yang menyertai manusia di lembah kekelaman. Dalam Lukas, Ia tampil sebagai Bapa yang menanti dan menyambut anak yang pulang dari negeri jauh.
Keduanya bertemu dalam satu pesan: keterpisahan manusia bukanlah alasan bagi Allah untuk berhenti mencari dan menerima mereka yang kembali.
Pesan tersebut memiliki relevansi bagi kehidupan orang beriman saat ini. Rasa bersalah dan kegagalan dapat membuat seseorang menganggap dirinya tidak lagi layak menerima kasih Tuhan. Namun, kisah anak yang hilang menunjukkan bahwa pintu kepulangan tetap terbuka bagi mereka yang sungguh-sungguh bertobat.
Pada saat yang sama, kisah itu juga mengingatkan orang beriman agar tidak mengambil posisi sebagai anak sulung yang merasa paling benar. Mereka yang telah menerima kerahiman dipanggil untuk meneruskannya kepada orang lain.
Pada akhirnya, Mazmur 23:4 dan Lukas 15 bertemu dalam gambaran tentang Allah yang hadir di tengah kekelaman dan membuka jalan pulang bagi manusia yang tersesat.
Lembah kekelaman bukan tempat terakhir. Negeri yang jauh bukan rumah terakhir.
Bagi mereka yang berbalik dan pulang, kisah tersebut berakhir bukan dengan penolakan, melainkan dengan pelukan dan sukacita.











