CEO & Founder Konekin, Marthella Sirait: Terus Perkuat Peran Komunitas dalam Menghadirkan Pendidikan yang Inklusif, Merata, dan Berkualitas di Indonesia

banner 468x60

CEO & Founder Konekin, Marthella Sirait: Terus Perkuat Peran Komunitas dalam Menghadirkan Pendidikan yang Inklusif, Merata, dan Berkualitas di Indonesia

 

Jakarta, 21 April 2026

 

CEO & Founder Konekin, Marthella Sirait, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam mendorong pendidikan inklusif di Indonesia dalam wawancara usai seminar Belajaraya 2026 yang digelar di Garuda Spark Innovation Hub, FX Sudirman, Jakarta, Selasa (21/04/26).

Kegiatan Belajaraya 2026 yang diinisiasi oleh Semua Murid Semua Guru (SMSG) merupakan praktik baik berbasis masyarakat yang mempertemukan komunitas pendidikan, pegiat literasi, guru, orang tua, hingga pemangku kebijakan dalam satu ruang kolaborasi. Dengan pendekatan inklusif dan berbasis daerah, acara ini diselenggarakan di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, dan Kupang untuk memperluas dampak dan partisipasi publik.

Dalam wawancaranya, Marthella menilai bahwa kehadiran berbagai stakeholder, termasuk pemerintah, menjadi sinyal positif bahwa aspirasi masyarakat terutama dari daerah berpotensi didengar dan dipertimbangkan dalam kebijakan pendidikan.

“Kalau kita bicara pendidikan, pasti melibatkan semua stakeholder, tidak hanya pemerintah tetapi juga komunitas. Belajaraya menjadi ruang untuk mempertemukan semuanya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi pendidikan yang tepat guna, terutama di tengah kekhawatiran terkait penggunaan media sosial pada anak usia dini. Menurutnya, platform seperti Canva dalam versi pendidikan dapat dimanfaatkan secara positif oleh guru dan murid untuk menciptakan materi pembelajaran yang lebih menarik, tanpa harus terjebak pada sisi negatif media sosial.

Lebih lanjut, melalui Konekin, Marthella memperkenalkan inovasi berupa buku cerita anak bertema disabilitas sebagai upaya membangun pemahaman inklusi sejak dini. Buku bergambar tersebut dirancang untuk membantu orang tua dan guru mengenalkan berbagai jenis disabilitas kepada anak-anak dengan cara yang sederhana dan menyenangkan.

“Buku ini kami kembangkan bersama komunitas disabilitas agar representasinya lebih autentik. Anak-anak bisa belajar memahami keberagaman sejak usia dini,” jelasnya.

Saat ini, buku yang dikenal sebagai “Buku BISA” tersebut telah didistribusikan ke sekitar 12 komunitas literasi di berbagai daerah, khususnya taman bacaan masyarakat. Namun, Marthella menekankan bahwa akses terhadap pendidikan inklusif bagi penyandang disabilitas masih perlu diperluas.

Ia berharap momentum Belajaraya 2026 dapat mendorong kolaborasi lebih luas, termasuk dengan pemerintah, agar materi edukasi inklusif dapat menjangkau lebih banyak sekolah di seluruh Indonesia.

“Harapannya, isu disabilitas tidak hanya berhenti di diskusi, tetapi benar-benar mendorong kebijakan dan akses yang lebih luas bagi para pelajar,” tambahnya.

Sebagai ruang temu lintas sektor, Belajaraya tidak hanya menempatkan masyarakat sebagai objek pendidikan, tetapi juga sebagai subjek aktif yang menggerakkan ekosistem pendidikan. Dengan semangat kolaborasi yang diusung oleh SMSG sejak 2016, Belajaraya terus memperkuat peran komunitas dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas di Indonesia.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *