Mahasiswa Diajak Jadi Motor Penggerak Pariwisata Berkelanjutan dan Penguatan Ekonomi Desa
Jakarta, Indondsiatodays.com
Kegiatan diskusi bertema pariwisata dan pembangunan desa menghadirkan dua narasumber penting, yakni Ketua Umum APUDSI Maulidan Isbar serta Staf Khusus Presiden Bidang Pariwisata Zita Anjani. Dalam forum tersebut, keduanya menekankan pentingnya kolaborasi generasi muda dalam mendukung sektor pariwisata berkelanjutan dan penguatan ekonomi desa.
Maulidan Isbar menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan potensi wisata yang sangat besar. Menurutnya, sektor pariwisata menjadi salah satu kekuatan utama yang harus terus dikembangkan melalui kerja sama lintas sektor, termasuk pemerintah, masyarakat, komunitas desa, hingga kalangan mahasiswa.
“Pariwisata ini banyak tumbuh di desa. Karena itu, kami tidak bisa lepas dari potensi kolaborasi dan dukungan berbagai pihak agar pengembangannya bisa maksimal,” ujar Maulidan.
Ia juga sepakat dengan pandangan Zita Anjani terkait pentingnya peran mahasiswa dalam mendukung program-program pemerintah, khususnya di bidang pariwisata. Menurutnya, mahasiswa sebagai generasi muda memiliki pemikiran kritis, intelektualitas, serta kemampuan untuk menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Dalam paparannya, Maulidan menyoroti hubungan erat antara pariwisata desa dan pertumbuhan UMKM. Ia menyebut aktivitas seperti homestay, kuliner, jasa pemandu wisata, hingga kerajinan tangan merupakan bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat yang tumbuh secara alami ketika sektor wisata berkembang.
“Ketika ada aktivitas pariwisata di suatu desa, otomatis ekonomi masyarakat ikut bergerak. UMKM pasti tumbuh di situ,” katanya.
Selain membahas penguatan ekonomi desa, diskusi tersebut juga menyinggung isu pengelolaan sampah dan pengembangan program Waste to Energy sebagai bagian dari konsep pariwisata berkelanjutan. APUDSI, kata Maulidan, saat ini tengah menggandeng sejumlah mitra dari Cina dan Eropa untuk mencari model terbaik dalam pengolahan sampah berbasis teknologi.
Menurutnya, tantangan utama pengolahan sampah di Indonesia adalah skala kapasitas yang sering kali belum sesuai dengan kebutuhan investasi teknologi besar dari luar negeri. Karena itu, pihaknya kini mencoba mengembangkan konsep pengolahan dalam skala lebih kecil yang dapat diterapkan di desa-desa.
“Kami ingin sampah masyarakat bisa terserap dan diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi, baik menjadi energi maupun produk daur ulang,” jelasnya.
Sementara itu, Zita Anjani mengajak mahasiswa untuk aktif berkolaborasi melalui gerakan sosial dan pariwisata yang digagas bersama berbagai komunitas. Salah satunya melalui gerakan “Unlock Indonesia” yang berfokus mengajak anak muda mencintai Indonesia serta mempromosikan keindahan destinasi wisata Tanah Air.
Menurut Zita, konsep pariwisata masa kini tidak bisa dipisahkan dari isu lingkungan. Karena itu, gerakan pariwisata berkelanjutan harus dibarengi dengan kesadaran terhadap pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan.
“Sekarang eranya anak muda sadar lingkungan. Banyak aksi bersih-bersih pantai dan destinasi wisata yang dilakukan komunitas-komunitas anak muda,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya bersama UKP Pariwisata dan berbagai komunitas rutin melakukan kegiatan sosial lingkungan di sejumlah daerah wisata, termasuk aksi bersih pantai dan edukasi pengelolaan sampah.
Di akhir kegiatan, Maulidan berharap mahasiswa tetap menjadi kelompok yang kritis dan visioner dalam melihat masa depan bangsa. Ia optimistis generasi muda akan menjadi kekuatan utama dalam membawa Indonesia menuju arah yang lebih baik, khususnya dalam pembangunan sektor pariwisata dan ekonomi desa yang berkelanjutan.
Dalam kesempatan yang sama, pihak akademisi dari Universitas Pancasila turut menyoroti pentingnya penguatan sumber daya manusia di sektor pariwisata.
Wakil Dekan II Fakultas Pariwisata Fahrurozy Darmawan mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah masih adanya kesenjangan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata.
Menurutnya, sejak berdiri pada 2008, Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila berupaya mengisi kebutuhan tersebut melalui pengembangan program studi pariwisata yang berorientasi pada kebutuhan industri.
“Kita punya sumber daya pariwisata yang luar biasa, tapi ada bottleneck di sisi sumber daya manusia. Karena itu kampus hadir untuk menciptakan SDM pariwisata yang unggul dan siap terjun ke industri,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kurikulum di Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila dirancang berbasis internasional dengan melibatkan konsultan dan praktisi dari dalam maupun luar negeri. Kurikulum tersebut terus diperbarui mengikuti perkembangan industri pariwisata global.
Selain pembelajaran di kelas, mahasiswa juga didorong aktif melakukan praktik lapangan dan tinggal langsung di tengah masyarakat melalui konsep pariwisata berbasis komunitas.
“Kita ingin mahasiswa menjadi local champion di daerahnya masing-masing. Banyak mahasiswa kami dari Belitung, Maratua, NTT dan daerah lain yang kembali membangun pariwisata di kampung halamannya,” kata Fahrurozy.
Ia menambahkan, pendekatan pariwisata yang diajarkan kampus bukan sekadar menciptakan tenaga pelayanan wisata, melainkan membangun kemitraan yang menghargai budaya lokal dan karakter masyarakat setempat.
Ia berharap lulusan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila mampu menjadi sumber daya manusia berkualitas yang tidak hanya siap bekerja di industri, tetapi juga mampu bertahan dan berkontribusi di masyarakat.
“Harapan kami adalah seluruh pihak bisa memiliki satu suara dalam membangun pariwisata Indonesia yang lebih berkualitas, tidak hanya mengejar kuantitas tetapi juga kualitas,” ujar Vitha.
Diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan budaya dalam pengembangan destinasi wisata. Konsep pariwisata berkelanjutan dinilai menjadi kunci agar potensi wisata Indonesia tetap terjaga dan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat lokal











