
Vice President Eksekutif Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero), Heri Sutikno: PLN Terus Menyiapkan Infrastruktur Jaringan Transmisi Berskala Besar. Hingga 2034 PLN Menargetkan Pembangunan sekitar 48.000 Kilometer Jaringan Transmisi yang akan Memperkuat Interkoneksi antarpulau,
Jakarta, Cosmopolitanpost.com
Ikatan Alumni Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (ILUNI SIL UI) bersama Indonesian Diaspora Network (IDN) Global menggelar Focus Group Discussion (FGD) Terintegrasi FEW Nexus bertajuk “Solusi Strategi Program dan Rencana Aksi Nasional untuk Ketahanan Pangan, Energi, dan Air Menuju Indonesia Emas 2045” di Kompleks Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Kegiatan ini menjadi forum strategis yang mempertemukan akademisi, pemerintah, diaspora Indonesia, pelaku usaha, dan pakar lintas sektor untuk merumuskan strategi menghadapi tantangan perubahan iklim, ketahanan pangan, energi, dan air sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Salah satu pembicara dalam forum tersebut, Vice President Eksekutif Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero), Heri Sutikno, memaparkan kesiapan infrastruktur ketenagalistrikan nasional, strategi integrasi pembangkit energi baru terbarukan (EBT), hingga pengembangan ekosistem kendaraan listrik sebagai bagian dari upaya transisi energi nasional.
Heri menegaskan PLN berkomitmen mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060 yang telah dideklarasikan perusahaan sejak COP26 melalui percepatan pengembangan energi bersih dan pengurangan emisi sektor kelistrikan.
Dalam paparannya, Heri menjelaskan bahwa Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW) hingga 2034. Dari jumlah tersebut, 42,1 GW atau sekitar 76 persen berasal dari energi baru terbarukan (EBT) yang mencakup tenaga surya, angin, panas bumi, hidro, bioenergi, hingga nuklir, serta didukung sistem penyimpanan energi (energy storage). Sementara sisanya berasal dari pembangkit berbasis gas dan batu bara.
Rincian pengembangan pembangkit EBT tersebut meliputi 17,1 GW PLTS, 11,7 GW PLTA, 7,2 GW PLTB, 5,2 GW panas bumi, 0,9 GW bioenergi, serta 0,5 GW pembangkit nuklir. Selain itu PLN juga akan mengembangkan 10,3 GW fasilitas penyimpanan energi yang terdiri atas 4,3 GW pumped storage dan 6 GW Battery Energy Storage System (BESS) untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional.
Menurut Heri, hingga saat ini pendanaan proyek-proyek ketenagalistrikan masih menggunakan anggaran yang telah tersedia di PLN. Sumber pembiayaan dapat berasal dari berbagai skema yang dimiliki perusahaan sesuai kebutuhan proyek, sementara pembahasan mengenai dukungan pendanaan lain masih terus dilakukan bersama pemerintah.
Ia juga menjelaskan bahwa perencanaan pengembangan pembangkit tersebut masih terus dimatangkan bersama kementerian dan lembaga terkait sesuai arahan Presiden sehingga implementasinya dapat berjalan optimal.
Selain pembangunan pembangkit, PLN juga menyiapkan infrastruktur jaringan transmisi berskala besar. Hingga 2034 perusahaan menargetkan pembangunan sekitar 48.000 kilometer jaringan transmisi yang akan memperkuat interkoneksi antarpulau, termasuk proyek Sumatera–Jawa sepanjang 1.174 kilometer dan Sumatera–Batam sepanjang 560 kilometer. Infrastruktur tersebut akan menjadi tulang punggung penyaluran listrik dari pembangkit EBT sekaligus meningkatkan keandalan sistem nasional.
PLN juga tengah membangun Smart Grid untuk mengintegrasikan pembangkit energi terbarukan yang bersifat intermiten, seperti tenaga surya dan angin. Sistem digital ini memungkinkan prediksi cuaca yang lebih akurat, pengaturan operasi pembangkit secara real time, hingga pengendalian jaringan listrik secara otomatis agar pasokan listrik tetap andal meski penetrasi EBT semakin besar.
Di sektor transportasi, Heri menyampaikan bahwa PLN terus memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional. Hingga Mei 2026, PLN telah menyediakan 92.112 home charger, 5.016 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di 3.132 lokasi, 619 SPKLU roda dua, serta 1.133 SPBKLU yang seluruhnya terintegrasi melalui aplikasi PLN Mobile.
Dalam sesi diskusi, Heri menegaskan bahwa seluruh upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen PLN untuk menghadirkan sistem ketenagalistrikan yang lebih hijau, tangguh, dan berkelanjutan guna mendukung swasembada energi nasional sekaligus mempercepat pencapaian target Indonesia Emas 2045. Sejalan dengan pesan penutup dalam paparannya, PLN menyatakan siap menjalankan amanah menghadirkan energi bersih hingga ke seluruh pelosok Tanah Air sebagai wujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.











